Menyadap Energi Lamalera (artikel)

Menyadap Energi Lamalera
oleh: F Rahardi, (Wartawan, Penyair, dan Konsultan Media)

“Lamalera, desa kecil di Lembata, NTT, menyimpan energi sangat kuat, Ratusan tahun Gereja Katolik menyadap energi itu, untuk karya pastoral di seluruh negri, banyak putera Lamalera menjadi tokoh nasional, tetapi desa ini tetap tak berubah, Terpencil, dan masih saja miskin.”

Anak-anak Lamalera, juga kawasan terpencil, dan miskin di Indonesia, memang seakan telah dirampas oleh Gereja. Mereka disekolahkan, ada yang berhasil jadi imam, bruder, atau suster, lalu tidak pernah pulang lagi, Mereka yang gagal juga lebih senang hidup di kota, terutama di Jakarta atau Surabaya, lalu lupa pada kampung halaman. Andaikan ada kesempatan pulang yang mereka lakukan hanyalah pamer kesuksesan. Terutama sukses sosial dan ekonomi.
Urbanisasi, lalu menjadi cita-sita kolektif anak-anak Lamalera, dan juga seluruh NTT. Salah satu cara termudah untuk lepas dari kemiskinan, dan keterbelakangan adalah tunduk pada Gereja, lalu masuk ke dalam sistem. Karena untuk menjadi imam, bruder, dan suster, tetap dituntut persyaratan yang ketat, tidak semua anak muda berhasil masuk sirkel Gereja, Meskipun gagal masuk seminari, impian meninggalkan kampung halaman tetap sangat kuat. Mereka pun nekat ke Jakarta menjadi satpam sekolah, atau ke Malaysia menjadi TKI.
Yang tersisa di kampung halaman, hanyalah mereka yang benar-benar ‘afkir’. Atau sebaliknya, mereka yang mempunyai kesetiaan luarbiasa pada tradisi. Bagi mereka, silau cahaya kota tidak menarik. Sebab menjadi nelayan bukan sekedar mencari nafkah. Menangkap paus adalah panggilan hidup, dan sekaligus kebanggaan. Tetapi anak muda seperti ini semakin langka. Hingga ada kemungkinan suatu ketika tradisi menangkap paus hanya akan tinggal kenangan.

Sejak 1881
Energi Lamalera telah mulai disadap oleh Gereja Katolik sejak 1881, bahkan jauh sebelumnya. Tahun 1881, Maria Lete, seorang gadis Lamalera dipermandikan oleh Pastor Jac. Kraaivanger, SJ. di Larantuka, Flores Timur. Tahun 1886, tahun berdirinya Paroki Santo Petrus dan Paulus, Lamalera; Paiji Bala, dan Pure, juga dipermandikan di Larantuka oleh Pastor Schweiz, SJ. Gadis-gadis Lamalera ini, jauh sebelumnya sudah dibawa para suster, untuk dididik di Larantuka.
Paroki Santo Petrus dan Paulus, Lamalera, adalah proki pertama di Lembata. Sebanyak 13 paroki Dekenat Lembata, Keuskupan Larantuka, memang berawal dari Lamalera. Syahdan, pertengahan tahun 1500an, Potugis mulai menguasai Timor, Rote, Sabu, Solor, dan kemudian Flores. Ini terjadi setelah Vasco de Gama menemukan jalur pelayaran melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan, dan Ferdinand Magellan, menemukan Selat Magellan di ujung Amerika Selatan.
Kedatangan bangsa Portugis itu membawa pula misi pertama (Misi Solor), yang terdiri dari Imam-imam Dominikan, Tahun 1556, Portugis membangun benteng di Kampung Lohayong, Solor. Di kampung itu pulalah masyarakat NTT pertamakali memeluk Agama Katolik. Misi Solor selanjutnya menyebarkan “Kabar Baik” ke Flores dan Adonara. Meskipun Pulau Lembata dilewati jalur pelayaran dari Timor ke Solor, namun para imam Dominikan sama sekali tidak menyentuhnya.
Tahun 1561, Pastor Antonio da Cruz, Pastor Samao das Chgas, dan Bruder Alexio, menetap di Lohayong, pantai utara Solor, Gereja pertama berdiri di Lohayong. Kemudian pada tahun 1613, Benteng Lohayong itu jatuh ke tangan Belanda. Imam-imam Dominikan digantikan oleh Jesuit. Tahun 1627, tujuh orang Jesuit dikirim ke Pulau Sabu dan Lembata, yang ketika itu masih bernama Lomblen. Namun tidak ada berita lebih lanjut dari kegiatan Misi Lembata ini.

Martir Lamalera
Agama Katolik masuk ke Lembata secara tak sengaja, dan melalui medan yang sangat sulit. Lamalera adalah kaki Gunung Ile Labalekang, yang terjal dan berbatu-batu, di pantai selatan Lembata. Hanya ada sepetak pantai yang agak landai, hingga bisa mendaratkan perahu. Di situlah perahu nelayan Lamalera bisa mendarat. Dan disitu pulalah awal tahun 1600an, dua orang imam, Joao Baotista da Fortolezza, OP, pastor Paga, dan Simao da Madre de Deos, pastor di Sikka, terdampar setelah perahu mereka terkena badai di laut Sabu.
Masyarakat Lamalera menyelamatkan dua imam ini, dan menerima ajaran-ajran mereka. Kabar tentang adanya dua imam yang terdampar di Lamalera, akhirnya terdengar oleh penduduk asli, dan umat Islam di Lamakera, desa di ujung timur pulau Solor Sudah sejak lama, mereka bermusuhan dengan orang-orang Portugis, dan misionaris yang menetap di Lohayong. Permusuhan ini terjadi karena perebutan jalur perdagangan rempah rempah dan kayu cendana. Tetapi agama lalu dibawa-bawa, hingga tahun 1618, Pastor Augustinho da Madgalena, OP, dari Muliwato, menjadi korban penyiksaan dan pembunuhan.
Demi mendengar kabar adanya dua imam yang berada di Lamalera, penduduk asli Lamakera segera datang kesana. Mereka menuntut diserahkannya dua imam tersebut. Penduduk Lamalera menolak, bahkan beberapa orang besedia menjadi ganti dari dua orang imam itu. Ketika itu, Raja Lamalera sedang keluar desa bersama 90 orang untuk berbelanja dengan menggunakan tiga perahu Orang-orang Lamakera segera menghadang mereka, dan menjadikannya sebagai sandera, untuk ditukar dengan Pastor Joao Baotista da Fortolezza OP, dan Simao da Made de Deos.
Karena penduduk Lamalera tetap bertahan, akhirnya dua imam inilah yang justru menyerahkan diri, agar tidak terjadi perang yang akan membawa korban lebih banyak lagi. Pastor Joao Baotista da Fortolezza OP, dan Simao da Made de Deos, akhirnya dibawa ke Lamakera, disiksa kemudian dibunuh. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 20 Januari 1621. Selain karena faktor kebetulan, Gereja Katolik masuk melalui Lamalera, sebenarnya juga disebabkan alasan yang lebih rasional. Pantai utara yang landai, terutama kota pelabuhan Balauring, sudah terlebih dahulu dikuasai oleh para saudagar Bugis dan Jawa yang muslim.

Aboriginal Whaling
Suku-suku di Lamalera adalah satu-satunya etnis di Indonesia, yang sampai sekarang masih menangkap ikan paus secara adat (Aboriginal whaling), dengan peraltan tradisional. Paus adalah jenis mamalia terbesar di dunia, yang hidup di laut. Paus yang ditangkap masyarakat adat Lamalera jenis sperm whale (Physeter macrocephalus) atau paus kepala besar. Paus Sperma adalah jenis ikan paus bergigi (toothed whales) terbesar, yang bobotnya antara 25 sd 50 ton perekor. Masyarakat adat Lamalera pantang menangkap paus tak bergigi (baleen whales), terutama blue whales, yang bobotnya bisa sampai 120 ton.
Habitat paus Kepala Besar merata di seluruh dunia, mulai dari kawasan kutub, sampai ke laut tropis, termasuk di Laut Sabu (Sawu). Populasi jenis paus ini masih sangat besar, berkisar antara 200.000 sampai dengan 2 juta ekor. Hingga jenis ini termasuk yang tidak masuk dalam apendik CITES (the Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora). Sementara jenis paus lain populasinya tinggal ratusan ekor. Misalnya Atlantic Nothern Right Whale, 300 ekor, dan Pacific Northen Right Whale, tinggal hanya 200 ekor.
Selain di Lamalera, masyarakat yang masih menangkap ikan paus secara adat dengan peralatan tradisional adalah, Suku Inoit Greenland (Denmark), 11 suku etnis eskimo di Alaska (AS), masyarakat Indian di Laut Karibia (Grenada, Dominika dan Santa Lusia). Hingga dari Lamalera inilah Indonesia tercatat, sebagai salah satu dari total delapan negara, yang masih menangkap paus secara adat, dengan peralatan tradisional.
Norwegia, dan Jepang, yang dulunya juga terkenal sebagai penangkap paus secara tradisional, sejak tahun 1980an telah menghentikan kegiatan mereka. Penangkapan paus secara modern, masih dilakukan oleh banyak negara, antara lain Norwegia, Jepang, dan juga AS. Karena populasi mamalia laut ini makin terancam, tahun 1946 the International Convention for the Regulation of Whaling (ICRW) membentuk the International Whaling Commision (IWC). Lembaga inilah yang mengatur kuota penangkapan paus secara modern.

Energi Laut Sabu
Laut Sawu terentang antara pulau Sumba (barat), Sabu, Rote (selatan), Timor (timur), Alor, Pantar, Lembata, Solor, dan Flores (utara). Pada musim barat (november-April), laut ini berombak sangat besar, dan sering terkena badai. Badai ini pulalah yang pada awal tahun 1600an, telah mendamparkan Pastor Joao Baotista da Fortolezza OP, dan Simao da Made de Deos ke Lamalera Desa Lamalera sendiri terletak di pantai selatan Lembata. yang langsung berhadapan dengan Laut Sabu. Desa ini berada di lereng yang tipis, dan di sebelah utaranya dinding terjal Gunung Ile Labalekang.
Karennaya, masyarakat Lamalera tidak mungkin bertani. Ladang mereka adalah Laut Sawu yang berombak besar itu. Penangkapan paus hanya dilakukan pada musim angin selatan, antara Mei sampai Oktober. Ketika itulah Laut Sawu lebih ramah. Namun tak jarang Peledang (perahu tradisional Lamalera) mereka terseret keluar Laut Sawu, dan terbawa arus sampai Australia, bahkan pernah sampai ke Samudera Pasifik Karena ratusan tahun dididik oleh alam yang keras, energi masyarakat Lamalera juga sangat kuat. Energi inilah yang telah sangat banyak dimanfaatkan oleh Gereja Katolik.
Mereka yang belum mengenal Lamalera, akan heran setelah mengetahui, bahwa desa kecil yang miskin ini, telah menghasilkan ratusan imam, bruder, dan suster Upaya pendidikan oleh Gereja ini, antara lain juga menghasilkan dosen, ahli bahasa, wartawan, direktur perusahaan multinasional, jendral polisi, bahkan juga menteri. Energi Laut Sawu itu ternyata telah sangat bermanfaat bagi kepentingan gereja, dan juga negara. Tetapi ironinya, tak ada yang berubah pada desa Lamalera. Mereka yang telah lepas d balik Ile Labalekang, seakan sudah bukan orang Lamalera lagi.
Desa Lamalera ibarat pohon lontar, yang malah bunganya disadap, diambil air niranya. Nira itu bisa menghilangkan dahaga mereka yang meminumnya Kalau dibuat gula merah, lontar akan memaniskan the, kopi, dan kue. Kalau dijadikan moke, minuman beralkohol ini bermanfaat menghangatkan tubuh, dan juga suasana pesta. Tapi pohon lontar itu sendiri tetap tak terurus. Tidak pernah seorangpun yang sengaja menanamnya, apalagi merawatnya. Hingga entah kapan, suatu lontar itu akan terkikis, barangkali juga segera punah.

Indah dan Subur
Lembata, dan juga pulau-pulau di sekitar Flores, sebenarnya sangat indah dan subur. Beda dengan Sumba dan Timor yang merupakan pulau karang, Flores, Solor, Adonara, dan Lembata adalah pulau vulkanis. Ile Labalekang, meski sudah tidak aktif, juga sebuah volcano, yang lereng-lerengnya sangat subur. Berlayar di Selat Solor, atau Selat Lamakera, pada bulan Mei hingga September, adalah pengalaman yang sangat eksotis. Sepanjang perjalanan, kita akan disuguhi deretan gunung, yang tiba-tiba saja mencuat dari rona biru permukaan laut.
Anggapan umum bahwa Flores, juga Lembata, merupakan kawasan kering dan tandus, sebenarnya keliru. Karena merupakan pulau vulkanis, Flores dan pulau-pulau sekitarnya sangat subur. Manggarai, dan Ngada di Flores Barat, adalah kawasan pertnian yang makmur. Di Hokeng, Flores Timur ada kebun kopi milik gereja, dan juga ada sawah yang sangat subur. Sepanjang perjalanan dari Ende ke kawah Kelimutu, kita akan disuguhi sawah yang berpengairan teknis mirip dengan di Jawa Lalu menjelang Kelimutu, akan tampak ladang sayuran yang menghijau.
Lereng bagian selatan atau barat Flore, dan pulau-pulau sekitarnya, selalu terkena angin barat yang hangat dan basah, serta angin selatan yang luar biasa dingin Hingga air sangat berlimpah serta tanahnya tetap lembab sepnjang thun. Beda dengan lereng utara dan timur, yang tidak terkena angin barat maupun selatan. Kawasan ini memang kering kerontang, dan sangat panas. Dalam perjalanan dari Lewoleba di utara Lembata, ke Lamalera di selatan, kita akan disuguhi bukti ini. Awalnya di kiri kanan jalan yng menanjak dan berkelok-kelok, yang tampak hnayalah lahan gersang dengan tegakan eukaliptus.
Setelah jalan mulai rata dan agak meurun, pemandangan berubah menjadi kebun kemiri, kopi, dan hutan campuran yang hijau dan lebat. Lamalera adalah desa yang bisa menjadi sangat makmur dari pertanian. Kebun anggur Champagne, di Perancis, juga terletak dilereng berbatu. Di pulau Canari (Atlantik), anggur ditanam dibalik tumpukan batu, agar terlindung dari angin laut. Di pulau Santorini, Yunani, anggur ditanam langsung di batuan vulkanis, tanpa para para, tanpa tiang panjatan, dan hanya dililitkan melingkar, semuanya berbuah dengan cukup baik.

Sebuah Ironi
Lamalera, dengan potensi energinya yang hebat itu, sayangnya masih tetap tak terperhatikan. Tak pernah ada upaya, baik dari pemerintah, Gereja Katolik, atau mereka yang sudah sukses di perantauan, untuk mengembangkan pertanian di desa ini. Meski berbatu-batu, lereng Ile Labalekang sangat subur. Udara dingin pada bulan Juli, Juni dan Agustus, akan membuat tanaman buah menjadi sangat produktif, dan manis. Sebab ketika itu sinar matahari benar optimal. Untuk mengembangkan kebun buah, tidak hanya diperlukan skill, tetapi juga modal.
Menangkap ikan paus secara adat dengan peralatan tradisional, juga bisa dijual sebagai atraksi wisata. Tiap Hari Raya Jumat Agung, di Larantuka ada Prosesi Samanasanta, yang selalu dipadati pengunjung. Solor dengan benteng portugisnya, juga merupkan obyek wisata berdaya tarik tinggi. Upaya promosi sudah dilakukan optimal, sebab banyak putera Lamalera yang menjadi wartawan media cetak maupun tivi. Tetapi tidak pernah ada niat membenahi sarana dan prasarana. Tak pernah ada keinginan membenahi lembaga adat menjadi lebih modern, seperti di Jepang, Thailand, dan Bali.
Tahun 1970, FAO (Food and Agricurtural Organization) PBB pernah turun tangan mendatangkan ahli penangkapan paus, berikut bntuan kapal serta peralatan. Upaya ini gagal. Sebab bukan itu yang diperlukan masyarkat Lamalera. Sebagian Energi yang sudah dikuras dari Lamalera, memang harus dikembalikan. Tetapi bentuknya bukan sekedar uang atau barang, dan bukan pendekatan karitatif. Masyarakat adat Lamalera memerlukan empati, bukan belas kasihan. Dan itu justru tidak pernah diberikan oleh pemerintah, Gereja Katolik, dan mereka, orang Lamalera sendiri yang telah sukses di perantauan. (2008)

Disalin dari buku kenangan pernikahan “Merayakan Cinta” Bona Beding dan Weni (penerbit: Lamalera)

loc